Thursday, March 21, 2013

Welcome

Welcome!
Migrasi Blog


Bintang dan Dia
Aku masih berdiri di tembok pembatas gedung kantorku yang berlantai lima, sudah dua benda menyakitkan aku buang. Tinggal satu benda lagi yang harus aku buang, yang paling menyakitkan di antara yang lain.
Sebut gadis itu Dia, rambut hitam lurus sebahu. Kulit kuning langsat khas orang dari Jawa Timur. Dia datang tepat setelah aku tidak mempercayai lagi wanita. Setelah hubunganku kandas karena pengkhianatan Salsa, aku tidak bisa lagi percaya kepada wanita. Bagiku, mereka hanya memanfaatkan setiap laki-laki yang ada di dekatnya untuk kepentingan pribadi mereka. Setidaknya, itulah yang aku tanamkan di otakku.
Dia tidak seperti yang lain, atau mungkin karena saat itu aku sedang merindukan memiliki seseorang yang berarti. Tidak ada yang istimewa tentang pendekatanku, kecuali hanya dengan rajin menghubungi dia dengan sms atau telepon. Hal yang biasa dilakukan. Sampai hubungan itu berlanjut pada acara jalan bersama, makan bersama, atau menonton film di cinema.
Aku memberanikan diri untuk mengatakan kalau aku menyukai dia. Dia tidak menjawab. Diam saat aku mengungkapkan perasaanku. Beberapa menit, mulutnya berbicara. Bukan menolak perasaanku, melainkan untuk mengatakan dia juga menyukai diriku. Namun, dia sudah memiliki seorang kekasih di kampung halamannya.
Diam kini menghampiriku, bukan karena dia mengatakan dia sudah mempunyai kekasih. Melainkan karena dia juga menyukai aku, menginginkan aku sebagaimana aku menginginkan dia. Akhirnya aku memberanikan keputusan untuk menjalin hubungan rahasia dengan Dia. Kali ini, aku yang berselingkuh. Aku tidak mengerti apa ini jalan yang Tuhan maksudkan.
Dua bulan berlalu, tidak ada yang tahu tentang hubungan kami. Bahkan teman-teman akrab Dia pun tidak tahu. Beruntung aku dekat beberapa teman Dia, sehingga tidak ada yang curiga kalau aku dekat dalam artian lain dengan Dia.
Kemudian datanglah seorang pria lain, orang yang Dia bilang hanya sebagai teman dekat. Namun firasatku mengatakan lain. Aku sering mengatakan tentang firasatku, tapi Dia mengelak. Dia mengatakan tidak ada hubungan apa-apa dengan pria itu. Aku pun percaya, sebagaimana dulu aku percaya pada Salsa yang mengkhianatiku, sebagaimana aku percaya pada Tuhan yang mengambil Gadis dariku.
Namun, sekali lagi kepercayaanku diuji. Dia mengirimkan SMS yang seharuisnya untuk pria lain tersebut kepada diriku. Ya, Dia salah kirim. Dan dipesan itu, tertulis ‘Dia Sayang Kamu’ di ujung pesan untuk pria tersebut.
Aku memejamkan mata, kemudian dalam satu tekan tombol aku menelpon Kepala Departemen tempat aku bekerja. Aku meminta ijin untuk mengundurkan diri, dan pergi ke Australia untuk mengambil beasiswa S2-ku. Bos-ku tidak mengerti dengan maksud permintaanku, dia memintaku untuk menemuiku dua hari lagi. Saat dia sudah kembali dari luar kota.
Aku berpamitan kepada teman-temanku, yang sebagian juga adalah teman-teman Dia. Sengaja Dia tidak aku hubungi. Aku hanya mengirimkan kembali SMS salah kirim dari dia, dan menambahkan kata ‘Terimakasih. Selamat tinggal.’
Berkali-kali dia menghubungiku, puluhan SMS dia kirimkan kepadaku sebagai permintaan maaf dan memintaku untuk tetap tinggal. Hatiku saat itu sudah bulat.
“Apa kamu mau meninggalkan pria itu demi aku?” kataku saat aku menerima telepon dari Dia.
“Ya, akan aku lakukan.” jawab Dia dari seberang sana.
“Apa buktinya? Setelah aku percaya dengan dirimu, dan kamu khianati? Kamu tidak beda dengan Salsa!” tegasku.
“Beri aku waktu, beri aku waktu untuk benar-benar mencintaimu. Hanya kamu.” Dia menangis.
“Sudahlah. Cukup. Kamu sudah punya pacar di kampung halamanmu. Di sini juga sudah ada pria itu. Buat apa kamu mempertahankan aku?” jawabku datar.
“Aku butuh kamu.” lirih Dia.
“Butuh? Kamu hanya butuh aku? Oke, baiklah. Berarti nanti ada saat dimana kamu tidak butuh aku lagi?”
Dia terdiam.
“Dua minggu. Keberangkatanku dua minggu lagi. Buktikan kata-katamu kalau kamu memang BUTUH aku di hidupmu. Makasih. Selamat Malam.” kataku sambil menutup telepon.
Setelah itu, Dia sering memberi perhatian kepadaku. Aku tidak pernah mendapati dia bertemu, atau berkomunikasi lagi dengan pria itu. Bahkan dia terkadang membiarkanku untuk membaca semua pesan yang ada di telepon seluler dia. Namun aku terlalu naif, aku melupakan jejaring sosial bernama Facebook.
Baru aku sadari, mereka saling berkomunikasi dengan cara menulis kata-kata di dinding mereka masing-masing. Sehingga tidak ada yang menyadari kalau mereka saling berkomunikasi. Tapi aku tahu, aku tahu kelakuan Dia dan pria itu.
Mendung mulai menyelimuti kota Yogyakarta, tetes-tetes kecil air perlahan mengenai wajahku. Satu benda lagi harus aku buang. Benar-benar harus dibuang karena benda ini selalu membuatku sakit teramat sangat. Dua kali aku masuk rumah sakit hanya karena teringat dengan pengkhianatan Dia. Ya, jantung ini harus segera aku buang. Kalau tidak, hidupku akan semakin menyakitkan.
Dengan mata terpejam, aku melompat. Merasakan angin yang menerpa tubuhku. Terasa sangat sejuk. Sampai suara keras itu terdengar. Dan semua menjadi gelap.

0 comments:

Post a Comment