Migrasi Blog
Bintang dan Dia
Aku
masih berdiri di tembok pembatas gedung kantorku yang berlantai lima, sudah dua
benda menyakitkan aku buang. Tinggal satu benda lagi yang harus aku buang, yang
paling menyakitkan di antara yang lain.
Sebut
gadis itu Dia, rambut hitam lurus sebahu. Kulit kuning langsat khas orang dari
Jawa Timur. Dia datang tepat setelah aku tidak mempercayai lagi wanita. Setelah
hubunganku kandas karena pengkhianatan Salsa, aku tidak bisa lagi percaya
kepada wanita. Bagiku, mereka hanya memanfaatkan setiap laki-laki yang ada di
dekatnya untuk kepentingan pribadi mereka. Setidaknya, itulah yang aku tanamkan
di otakku.
Dia
tidak seperti yang lain, atau mungkin karena saat itu aku sedang merindukan
memiliki seseorang yang berarti. Tidak ada yang istimewa tentang pendekatanku,
kecuali hanya dengan rajin menghubungi dia dengan sms atau telepon. Hal yang
biasa dilakukan. Sampai hubungan itu berlanjut pada acara jalan bersama, makan
bersama, atau menonton film di cinema.
Aku
memberanikan diri untuk mengatakan kalau aku menyukai dia. Dia tidak menjawab.
Diam saat aku mengungkapkan perasaanku. Beberapa menit, mulutnya berbicara.
Bukan menolak perasaanku, melainkan untuk mengatakan dia juga menyukai diriku.
Namun, dia sudah memiliki seorang kekasih di kampung halamannya.
Diam
kini menghampiriku, bukan karena dia mengatakan dia sudah mempunyai kekasih.
Melainkan karena dia juga menyukai aku, menginginkan aku sebagaimana aku
menginginkan dia. Akhirnya aku memberanikan keputusan untuk menjalin hubungan
rahasia dengan Dia. Kali ini, aku yang berselingkuh. Aku tidak mengerti apa ini
jalan yang Tuhan maksudkan.
Dua
bulan berlalu, tidak ada yang tahu tentang hubungan kami. Bahkan teman-teman
akrab Dia pun tidak tahu. Beruntung aku dekat beberapa teman Dia, sehingga
tidak ada yang curiga kalau aku dekat dalam artian lain dengan Dia.
Kemudian
datanglah seorang pria lain, orang yang Dia bilang hanya sebagai teman dekat.
Namun firasatku mengatakan lain. Aku sering mengatakan tentang firasatku, tapi
Dia mengelak. Dia mengatakan tidak ada hubungan apa-apa dengan pria itu. Aku
pun percaya, sebagaimana dulu aku percaya pada Salsa yang mengkhianatiku,
sebagaimana aku percaya pada Tuhan yang mengambil Gadis dariku.
Namun,
sekali lagi kepercayaanku diuji. Dia mengirimkan SMS yang seharuisnya untuk
pria lain tersebut kepada diriku. Ya, Dia salah kirim. Dan dipesan itu,
tertulis ‘Dia Sayang Kamu’ di ujung pesan untuk pria tersebut.
Aku
memejamkan mata, kemudian dalam satu tekan tombol aku menelpon Kepala
Departemen tempat aku bekerja. Aku meminta ijin untuk mengundurkan diri, dan
pergi ke Australia untuk mengambil beasiswa S2-ku. Bos-ku tidak mengerti dengan
maksud permintaanku, dia memintaku untuk menemuiku dua hari lagi. Saat dia
sudah kembali dari luar kota.
Aku
berpamitan kepada teman-temanku, yang sebagian juga adalah teman-teman Dia.
Sengaja Dia tidak aku hubungi. Aku hanya mengirimkan kembali SMS salah kirim
dari dia, dan menambahkan kata ‘Terimakasih. Selamat tinggal.’
Berkali-kali
dia menghubungiku, puluhan SMS dia kirimkan kepadaku sebagai permintaan maaf
dan memintaku untuk tetap tinggal. Hatiku saat itu sudah bulat.
“Apa
kamu mau meninggalkan pria itu demi aku?” kataku saat aku menerima telepon dari
Dia.
“Ya,
akan aku lakukan.” jawab Dia dari seberang sana.
“Apa
buktinya? Setelah aku percaya dengan dirimu, dan kamu khianati? Kamu tidak beda
dengan Salsa!” tegasku.
“Beri
aku waktu, beri aku waktu untuk benar-benar mencintaimu. Hanya kamu.” Dia
menangis.
“Sudahlah.
Cukup. Kamu sudah punya pacar di kampung halamanmu. Di sini juga sudah ada pria
itu. Buat apa kamu mempertahankan aku?” jawabku datar.
“Aku
butuh kamu.” lirih Dia.
“Butuh?
Kamu hanya butuh aku? Oke, baiklah. Berarti nanti ada saat dimana kamu tidak
butuh aku lagi?”
Dia
terdiam.
“Dua
minggu. Keberangkatanku dua minggu lagi. Buktikan kata-katamu kalau kamu memang
BUTUH aku di hidupmu. Makasih. Selamat Malam.” kataku sambil menutup telepon.
Setelah
itu, Dia sering memberi perhatian kepadaku. Aku tidak pernah mendapati dia
bertemu, atau berkomunikasi lagi dengan pria itu. Bahkan dia terkadang
membiarkanku untuk membaca semua pesan yang ada di telepon seluler dia. Namun
aku terlalu naif, aku melupakan jejaring sosial bernama Facebook.
Baru
aku sadari, mereka saling berkomunikasi dengan cara menulis kata-kata di
dinding mereka masing-masing. Sehingga tidak ada yang menyadari kalau mereka
saling berkomunikasi. Tapi aku tahu, aku tahu kelakuan Dia dan pria itu.
Mendung
mulai menyelimuti kota Yogyakarta, tetes-tetes kecil air perlahan mengenai
wajahku. Satu benda lagi harus aku buang. Benar-benar harus dibuang karena
benda ini selalu membuatku sakit teramat sangat. Dua kali aku masuk rumah sakit
hanya karena teringat dengan pengkhianatan Dia. Ya, jantung ini harus segera
aku buang. Kalau tidak, hidupku akan semakin menyakitkan.
Dengan
mata terpejam, aku melompat. Merasakan angin yang menerpa tubuhku. Terasa
sangat sejuk. Sampai suara keras itu terdengar. Dan semua menjadi gelap.
0 comments:
Post a Comment